< kembali

Aspal dan Beton Untuk Konstruksi Jalan Tol

AWRM - Aspal dan Beton Untuk Konstruksi Jalan Tol

Disadari atau tidak, konstruksi jalan tol di Indonesia umumnya menggunakan dua jenis material lapisan jalan. Diantaranya beton dan aspal, keduanya sering dipilih, dan tak jarang saling melengkapi satu dengan yang lain. 

Di Indonesia, dua model lapisan jalan tersebut sudah banyak digunakan pakan infrastruktur jalan. Baik berskala sedang, hingga menengah. Dan tak hanya itu, proyek jalan tol yang dikembangkan di berbagai daerah kerap menggunakan komposisi keduanya.

Dalam hal penggunaan, kedua material pelapis jalan tersebut jelas memiliki perbedaan. Terutama pada saat dilintasi oleh kendaraan di atasnya. Aspal misalnya, kelenturan material membuat kendaraan berjalan lebih mulus.

Sementara beton, umumnya memiliki struktur agak kasar, sehingga meski tak terlalu mengguncang, penggunaan material ini umumnya masih menyisakan sedikit guncangan, meski dalam skala minor. Meski demikian, tipe material ini memiliki kelebihan dibanding Material Aspal.

Hal tersebut juga dijelaskan oleh Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero), Dwimawan Heru. Seperti dikutip dari Today.Line, seperti prosedur pembangunan infrastruktur jalan pada umumnya, pemilihan kedua material tersebut umumnya dibedakan berdasarkan fungsi layanan jalan tol yang ingin dibangun.

Dalam hal ini, penggunaan jalan tol dengan intensitas beban berat terlalu tinggi umumnya direkomendasikan menggunakan material beton. Meski agak kasar, bahan ini memiliki durabilitas yang sangat baik.

Selain mampu menahan beban berat, material beton juga dikenal memiliki struktur yang sangat sulit berubah bentuk. Sehingga pada saat musim penghujan, struktur jalan tol beton umumnya tidak mudah mengalami permasalahan genangan air.

Tak bisa disepelekan, meski dapat mengganggu pengendara lain karena percikan air, genangan air yang muncul pada jalan juga kerap berdampak kurang baik. Diantaranya penurunan kualitas jalan, yang berakibat pada kerusakan minor, dan berat dalam jangka waktu panjang.

Kerusakan struktur jalan tol kerap berdampak sistemik, terutama jalur lalu lintas pengiriman barang dan mobilitas masyarakat. Oleh karena itu, perancangan yang tepat struktur jalan Tol sering berawal dari pemilihan pengerasan dan desain jalan sesuai kebutuhan.

Menurut Heru, material perkerasan beton sangat ideal untuk layanan jalan tol dengan intensitas lalu lintas kendaraan berat. Fasilitas ini umumnya sering ada pada jalur antar kota, atau provinsi dengan jenis daerah industri dan perdagangan.

Jalan tol dengan pengerasan beton umumnya membutuhkan proses pembangunan lebih lama, dengan biaya lebih mahal. Hal ini jika dibandingkan dengan prosedur penggunaan pengerasan jenis aspal yang juga kerap digunakan untuk proyek jalan tol.

Meski lama dan membutuhkan biaya yang mahal, penggunaan pengerasan jalan tol dengan beton umumnya mudah dalam hal perawatan, dan dapat bertahan dalam jangka waktu lama. Sehingga sering digunakan pada rute jalan tol panjang, antar provinsi.

 

Aspal untuk Struktur Jalan Tol Lebih Nyaman

Seperti dijelaskan di atas, penggunaan pengerasan beton memiliki kelebihan dalam hal durabilitas, jika dibanding tipe material aspal. Meski demikian, olahan aspal untuk struktur jalan tol juga tak kalah memberi sejumlah kelebihan.

Seperti sedikit dijelaskan di atas, komposisi aspal sebagai material pengeras jalan memiliki struktur lebih halus. Selain itu, material ini juga lebih lunak, sehingga saat dilewati oleh kendaraan, akan terasa halus dan nyaman, tanpa adanya guncangan.

Kelebihan ini yang kerap membuat jalan aspal banyak digunakan di kawasan perkotaan, atau dalam daerah. Selain itu, jalan tol dengan intensitas lalu lintas kendaraan berbobot ringan, lebih disarankan menggunakan model pengerasan material aspal.

Heru mengatakan, meski aspal tidak setangguh beton, proses pengerjaan relatif lebih cepat dengan biaya yang tidak terlalu tinggi. “Selain itu, jika terjadi kerusakkan, model jalan beton umumnya membutuhkan biaya dan waktu pengerjaan lebih lama, dibanding aspal,” jelasnya.

Jalan dengan material pengeras aspal umumnya juga lebih sedap dipandang. Karena material beton umumnya akan memberi kesan panas dan gersang, sangat tidak ideal untuk melakukan perjalanan menyenangkan.

 

Meski keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, penggunaan material aspal dan beton biasanya dikombinasikan satu dengan yang lain dalam pembangunan struktur jalan tol di banyak tempat di Indonesia.

Perhitungan beban jalan dengan intensitas kendaraan berat dan jalur yang digunakan untuk kecepatan sedang hingga tinggi membuat komposisi keduanya sangat ideal. Singkatnya ruas jalan tidak akan mudah rusak, tanpa mengurangi pengalaman berkendara yang nyaman hingga sampai tujuan.

Beberapa sudut area jalan tol, seperti rest area misalnya, bagian ini sering digunakan untuk beristirahat dan sering mendapat beban pasif berat dalam waktu lama. Penggunaan media pengeras Beton pada dasarnya lebih ideal.

Selain itu, pada pintu tol yang kerap digunakan sebagai tempat pemberhentian sementara juga sangat ideal menggunakan material beton, dibanding aspal, Sementara bagian utama jalan tol lebih ideal menggunakan pengeras jalan Aspal.

 

Mengenal Teknologi VCM pada Pengerjaan Jalan Tol 

Fasilitas jalan tol bukan hal baru di Indonesia, bahkan di tiap daerah, fasilitas ini tersedia dan saling terhubung satu dengan yang lain. Percepatan pengembangan fasilitas ini tak lepas dari teknologi pembangunan struktur jalan tol yang digunakan.

Pembangunan fasilitas jalan tol, menjadi perhatian pemerintah saat ini. Cara ini dianggap sebagai solusi pemerataan ekonomi yang membuat jarak antar daerah lebih dipersingkat. Sehingga proses pengiriman dan mobilitas masyarakat lebih mudah dan efisien.

Seperti dikutip dari Kompas, pengerjaan fasilitas umum jalan tol yang dikejar deadline, kini mulai teratasi berkat teknologi VCM, atau Vacuum Consolidation Method. Cara ini selain dapat membuat proses pengerjaan lebih dipersingkat dari cara konvensional.

Metode VCM bekerja dengan mengurangi udara dan air pada tanah. Sehingga didapat pondasi yang padat pada beragam medan. Bahkan rawa-rawa dan sejenisnya yang merupakan jenis tanah yang banyak dijumpai di Indonesia.

Peningkatan daya dukung tanah menjadi ideal ini membuat proses bekerja tanpa sumber daya dan alat berat di lapangan. Sehingga dalam proses pengerjaannya lebih mudah, efisien dan dapat berjalan dalam waktu singkat.

Teknologi pengerjaan jalan unik ini sudah mulai banyak digunakan di Indonesia. Salah satunya pembangunan struktur jalan tol Palembang-Indralaya. Dan kemungkinan besar, cara ini juga akan diadopsi pada banyak proyek pembangunan jalan tol lain di Indonesia.


PT Anggaza Widya Ridhamulia merupakan perusahaan konstruksi swasta yang sudah menangani berbagai proyek skala nasional selama lebih dari 1 dekade. Apabila Anda membutuhkan layanan jasa konstruksi profesional, silahkan hubungi kami untuk informasi dan konsultasi lanjutan.